#IndonesiaTanpaJIL

BlogTag

BlogTag
Verba volant, scripta manent - Words fly, written stays
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Saturday, March 31, 2012

Merokok dan Hak Asasi

Tahu apa kita tentang hak asasi, apabila kita masih merampok hak paling hakiki yang diberikan Tuhan kepada manusia?

Sebagian perokok mengatakan bahwa merokok adalah hak asasi atau hak pribadi mereka, dan merokok di manapun adalah hak mereka. Orang lain harus menghormati hak tersebut. Sadarkah mereka bahwa ada hak yang lebih hakiki daripada yang mereka klaim tersebut?

Iya. Pada awalnya, kita diberikan Tuhan udara yang bersih, segar dan menyehatkan. Semua manusia yang lahir sudah disediakan udara bersih itu, dan itu menjadi kebutuhan kita, dan kemudian tidak salah kalau kita kemudian mengklaim kalau itu adalah hak manusia yang paling hakiki.

Lalu kemudian, timbullah pendapat orang-orang yang tidak berpikir, dan menyebut-nyebut tentang hak asasi, atau hak pribadi. Pernahkah mereka membayangkan, ketika mereka memiliki tanah yang luas, dengan halaman yang asri tertata dan nyaman, rumput-rumput yang subur dan asri membentang, mereka menikmati keadaan tersebut. Lalu kemudian tiba-tiba sekonyong-konyong ada serombongan kambing milik tetangganya yang seharusnya digiring ke padang lain oleh penggembalanya, tiba-tiba masuk ke halamannya tanpa diundang, memakan rumput dan bunga-bunganya, merusak tamannya, membuang kotoran sembarangan sehingga membuat halamannya jadi kotor dan berantakan. Apakah pemilik halaman ini bisa menerima kalau si penggembala bilang bahwa masuk ke halamannya merupakan hak pribadi kambing-kambingnya, dan itu adalah salah si pemilik halaman karena memiliki tanah yang dekat dengan si penggembala?

Atau bagaimana kalau seseorang yang bukan perokok lalu membalas dengan ngupil atau kentut sembarangan di samping perokok tersebut dengan alasan itu juga merupakan hak pribadinya? Apakah si perokok akan menerimanya juga?

Mungkin cara berpikir orang yang berbicara seperti itu sudah terganggu karena pengaruh asap rokok yang dia hisap, atau karena memang tidak berpikir sama sekali. Terkadang juga para perokok sudah menanggalkan rasa malu dengan merokok di kawasan yang dengan jelas tertera plang dilarang merokok.

Dari sini sebenarnya bisa ditarik kesimpulan, bagaimana kepribadian seseorang bisa dilihat dari bagaimana seorang perokok memilih lokasi merokok. Mungkin lucu, tapi ini bisa jadi hal menarik dan menjadi permainan mengusir waktu, apalagi di saat anda berada dalam situasi membosankan seperti menunggu di bandara, menunggu menu makanan di restoran dll. Selamat bermain...! :)

Wednesday, March 7, 2012

Re-open The Box

Hmm, sudah lama sekali sejak terakhir nulis di sini. Ada beberapa teman yang bertanya status blog ini, dan susah sekali menjawabnya, karena memang tidak ada aktivitas dalam 1 tahunterakhir ini.

Bikin blog memang mudah-mudah susah. :) Kita kadang punya banyak ide yang ada dalam otak, namun terasa malas sekali untuk dituliskan. Kadang pengen nulis, tapi ada kerjaan lain. Pengennya sih, yang dituliskan di sini bukan sekedar tulisan iseng saja, minimal bisa bikin orang lain senyum atau ada sedikit ide yang bermanfaat bagi siapa saja yang membaca.

Bikin blog sebenarnya agar banyak (atau at least ada) yang membaca, agar ide kita yang tertuang dalam tulisan ini tidak hanya jadi sia-sia. Tapi juga bisa jadi tempat penyimpanan ide pribadi, sebagai pengingat apa yang telah dikatakan dan apa yang direncanakan, dan mungkin suatu saat akan kita kerjakan jikalau memang diperlukan dan ada waktu. Terkadang juga, apa yang kita tuliskan adalah pengalaman-pengalaman pribadi dan hasil obrolan dengan teman-teman, yang sering ingin kita share.

Blogger seperti saya adalah blogger yang tidak terikat afiliasi dengan siapa atau organisasi apa pun, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ikut berkumpul dan berafiliasi. Memang blog ini jadi tidak dikenal dan sedikit dibaca, namun tidak terlalu masalah juga. Penuangan ide itu tidak harus dibaca orang. Jika menyangkut ide atau gagasan, yang penting penulis cukup mengerti dengan apa yang ditulis dan diimpelementasikan sendiri, itu yg jauh lebih penting, ketimbang dibaca oleh orang lain tetapi tidak dilakukan sendiri oleh penulis.

Tulisan yang ditulis di sini pun bukan hasil copy atau tiruan dari sumber lain yang kemudian di share. Kalaupun ada ide yang timbul dari sumber lain, itu akan dikembangkan dan sedapat mungkin saya cantumkan link atau sumbernya. Jadi saya mengupayakan agar tulisan di sini adalah hasil tulisan dari jemari saya sendiri.

Hari ini, saya akan memulai lagi menulis (Insya Allah) apa saja yang ingin saya tulis. Bukan karena apa-apa, tapi rasanya sayang juga kalo punya blog tapi gak pernah diisi... hehehehe....

Selamat berhari Rabu....

Tuesday, December 28, 2010

Goresan untuk Garuda

Kita semua punya masalah, kita semua punya rintangan dalam hidup. Tapi kita punya harapan, dan harapan itu akan menjadi kenyataan bila kita berjuang untuk menggapainya.

Hari ini, satu hari sebelum final leg ke 2 di GBK, ribuan orang masih mengantre di GBK, untuk selembar kertas tanda izin masuk ke stadion besok malam. Ya, tiket Final Piala AFF Leg ke 2 di GBK. Padahal, kita semua mengetahui bahwa Timnas butuh perjuangan yang ekstra berat untuk menjadi Juara, harus menang minimal dengan selisih 4 gol atas Malaysia. Kenyataan ini membuka mata kita, bahwa Bangsa Indonesia tidak peduli dengan hambatan dan tantangan hingga kesempatan itu berakhir. Perjuangan baru berakhir ketika pertandingan memang benar-benar telah berakhir.

Sementara para pemain Timnas tidak mempersoalkan gangguan supporter Malaysia di Bukit Jalil dengan laser hijaunya. Tidak perlu ada kambing hitam. Kita telah kalah di leg pertama, dan itu adalah pelajaran bagi kita, bukan berarti kita telah kalah secara total. Jangan menyerah, masih ada 90 menit di GBK seperti ucapan Bambang Pamungkas Sang Kapten Tim. Ini Tamparan dari Allah, begitu kata Ahmad Bustomi. Para pemain TImnas tetap siap menghadapi pertempuran kedua di GBK.

HARI INI, INDONESIA MEMBUKTIKAN DIRI SEBAGAI BANGSA PEJUANG, BANGSA YANG TIDAK KENAL MENYERAH, BERSATU DALAM PERJUANGAN DAN BERTINDAK SESUAI APA YANG BISA DILAKUKAN.

Sementara setelah kekalahan di Bukit Jalil, para politikus kesiangan itu bersembunyi di balik media yang mereka kontrol. Mereka yang sok pahlawan itu muncul ketika orang-orang mengelu-elukan Timnas, lalu memasang spanduk foto-foto mereka di Bukit Jalil yang membuat kita sebagai orang Indonesia malu. Patut kita lihat, setelah final besok, apakah mereka akan memboncengi Timnas lagi? Sepertinya di Indonesia telah lahir seorang copycat dari Silvio Berlusconi, seorang pengusaha Italia yang jadi tenar dan akhirnya menduduki kursi Perdana Menteri yang diawali dengan suksesnya di bisnis sepakbola. Kalau benar, saya hanya berharap semoga sang copycat tersebut mendapat pelajaran yang sama dengan Berlusconi ketika giginya patah terkena lemparan patung besi di tengah khalayak ramai. Hanya agar dia tahu, apa yang dilakukannya itu sama sekali tidak mendapat simpati dari mayoritas pendukung Timnas Garuda.

Bambang, Firman, pimpinlah TImnas di lapangan hijau dengan penuh percaya diri. Hilangkan bayangan kebobolan 3 gol di Bukit Jalil. Besok jadikan laga yang sama sekali tak terkait dengan itu. Mari mengulang kenangan manis 28 hari lalu di tempat yang sama, di mana kita berpesta pora menghancurkan Harimau Kemayu dengan skor 5-1. Tanpa bantuan mobilisasi laser hijau yang membuat emosi. Hanya dengan keriangan, hanya dengan keringanan kaki dan senyum di lapangan. Percayalah, kami semua mendukung Timnas Garuda dengan hanya 1 harapan: Menang dengan berwibawa, kalah pun dengan terhormat. Kami tidak menginginkan menjadi pengurus PSSI, kami hanya ingin PSSI tidak salah urus.

Kami percaya Garuda akan mengangkasa....

Wednesday, December 15, 2010

Garuda di Dadaku

Seiring dengan baiknya penampilan Timnas Sepakbola Indonesia di Piala AFF 2010, maka banyak sekali pendapat yang mengalir deras yang ditujukan kepada Tim ini. Bukan saja pendapat yang teknis, tapi juga non teknis, hingga seragam timnas pun digugat. Digugat? Ya, digugat oleh seseorang yang bernama David Tobing.

Tidak jelas apa tujuan akhir dari gugatan David Tobing ini, inilah kutipan dari pendapat beliau: "Ada fakta penggunaan Lambang Negara tersebut tidak berdasar dan melanggar Undang-Undang tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan". Lalu beliau pun menggugat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mendiknas, Menpora, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan PT Nike Indonesia, terkait penggunaan lambang negara Garuda dalam kostum tim sepak bola nasional (http://www.antaranews.com/berita/1292329080/david-tobing-gugat-kostum-timnas-indonesia).

***
Menurut saya, gugatan itu adalah gugatan yang tidak perlu, terlalu berlebihan dan terkesan (maaf) mencari popularitas.
Sejak tahun 1956 di Olimpiade Melbourne, Lambang Garuda itu selalu melekat di dada para pemain Timnas, bahkan pernah berukuran besar dan terletak di bagian tengah bagian depan seragam merah Timnas Indonesia. Sampai beberapa hari yang lalu, tidak seorang pun mempermasalahkan hal tersebut, bahkan kelompok-kelompok supporter membuat yel-yel penyemangat Tim Nasional pada saat bertanding di stadion dengan Nyanyian: "Garuda di dadaku"


Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu, tunjukkan sportifitasmu
Ku yakin hari ini pasti menang.

Menyanyikan yel di atas di dalam Stadion bersama-sama puluhan ribu pendukung Timnas merupakan satu hal yang bisa menambah kecintaan kita terhadap Bangsa dan Negara. Dan hal ini membuat saya berpikir, bahwa David Tobing ini mungkin tidak pernah merasakan atmosfer itu.

Friday, November 19, 2010

Pembelaan

Menyelami perasaan seseorang memang tidak mudah, dan kadang memang tidak ada gunanya. Tapi terkadang juga kita penasaran dengan apa yang menjadi isi kepala seseorang. Membuat kita menerka-nerka, apa yang diinginkan dari orang tersebut, apa tujuannya, apa yang melatarbelakangi dia melakukan sesuatu, melatarbelakangi dia mengatakan sesuatu, melakukan pembelaan terhadap sesuatu yang sudah jelas tidak perlu diterangkan dan dibela serta hal-hal lain yang membuat rasa keingintahuan kita tinggi.

Khusus mengenai pembelaan, saya memiliki pengalaman yang unik, yang mungkin tidak perlu diterangkan di sini. Tapi hal ini membuat saya berteori, dan muncullah hipotesis saya tentang pembelaan.

Sebelum membaca tulisan ini saya perlu mengingatkan bahwa apa yang saya tulis ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan salah satu atau beberapa profesi tertentu. Ini hanyalah tulisan berdasarkan pendapat saya yang saya anggap logis.

Seseorang yang membela sesuatu atau seseorang, dapat dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang logis, di antaranya adalah:
  1. Dibayar. Hal ini sangat logis dan pasti banyak terjadi. Bisa menjadi profesi, bisa juga amatiran. Atau malah tidak sengaja dan diperalat. Tidak perlu dibahas, semua juga sudah mengerti.
  2. Simpati. Atau mungkin juga bisa dibilang kasihan. Seseorang yang bersimpati dengan orang lain, cenderung akan melakukan pembelaan terhadap orang lain yang menurutnya pantas untuk dibela, atau dikasihani. Pembelaan bisa dilakuakan terhadap penindasan, pelecehan, penganiayaan dan juga ejekan. Hal ini bisa juga dilatarbelakangi oleh lemahnya mental orang yang menjadi objek, ketidaktegasan, ataupun ketidakberdayaan. Orang yang easygoing tidak termasuk dalam orang yang pantas dibela, kecuali istilah easygoing itu salah alamat, atau salah diinterpretasikan. Sebenarnya objek tersebut tidak easygoing, tetapi lemah secara posisi, dan tidak tegas dalam bertindak.
  3. Status. Karena status, biasanya orang berusaha untuk melindungi objek untuk dibela. Biasanya status ini karena pernikahan atau memang hubungan darah. Bisa juga antara atasan-bawahan. Pembelaan seperti ini biasanya tulus, namun tidak jarang juga timbul karena terpaksa. Bisa juga dilakukan untuk menjaga image, menjaga rahasia pribadi, keluarga, perusahaan dll, bahkan untuk menutupi borok atau aib dalam suatu institusi.
  4. Satire/sinisme. Pembelaan seperti ini tujuan sampingnya adalah menyindir objek yang dibela. Secara sadar atau tidak sadar, objek yang dibela akan merasa tersindir dan lama kelamaan menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang membelanya ini adalah berlawanan dengan tujuannya. Biasanya pembelaan seperti ini akan berakhir dengan kesadaran dari objek yang dibela atas kekeliruannya.

Sunday, November 14, 2010

Garing; Sebuah Kajian Singkat

Beberapa org memang terlahir garing. Beberapa org memang sangat berbakat untuk menjadi garing. Beberapa yg lain seperti terlihat bangga dengan kegaringannya, bahkan terlihat sekali seperti tidak ingin kehilangan reputasi garing, bahkan berusaha mati-matian mempertahankan kegaringan itu.

Garing mungkin didapat dari faktor lingkungan. Mungkin pergaulan. Mungkin juga faktor keturunan. Yg pasti, sangat berat untuk tertawa pada saat kegaringan itu muncul dari seseorang dengan reputasi garing yg menahun.

Garing bisa menular! Seseorang yg hidupnya selalu dekat dengan org garing cenderung akan bersifat garing juga. Sensitivitas kelucuan akan berubah secara berangsur-angsur menuju kegaringan yg tiada tara. Ini merupakan ancaman terhadap humor & kelucuan di lingkungan kita. Sebaiknya kita mencegah ancaman dari orang-orang yg ingin memasyarakatkan kegaringan & menggaringkan masyarakat.

Garing itu pencemaran gairah. Garing mengotori mood. Garing juga mengubah cuaca & suasana hati kita. Di saat kita berdiskusi & bercanda dengan riang, lalu kemudian datang seseorang yg membawa kegaringannya, maka kegaduhan akan berangsur berubah menjadi kerlingan mata, menjadi bibir yg monyong, bahkan gerutu. Tertawa akan berubah menjadi meringis, senyum akan berubah menjadi tertahan. Atmosfer humor akan berubah mendung. Bahkan kadang semua org berusaha untuk berlari dari lokasi jatuhnya kegaringan seraya berdoa agar tidak timbul kegaringan lain di tempat yg baru.

Kegaringan lahir dari pergaulan. Kegaringan lahir dari cara pandang & wawasan. Kegaringan lahir melalui proses. Semakin kegaringan ditolerir, maka kegaringan akan selalu muncul. Oknum yg garing akan selalu merasa lucu, apabila dibiarkan & diperlakukan seperti kita memperlakukan hal yg lucu. Semakin ditolerir, kegaringan akan menjadi kronis, lama-lama akan sangat mengganggu. Karenanya, kita harus memperlakukan org yg berlaku garing seperti apa adanya. Siapa yg mau menjadi korban kegaringan? Korban kegaringan akan tersiksa dalam hati. Korban kegaringan cenderung berbohong dengan berpura-pura tertawa. Korban kegaringan bisa tersenyum kecut, bisa tersenyum sinis & juga bisa tersenyum lebar, walaupun terlihat seperti org yg menahan sakit perut. Korban kegaringan patut dikasihani.


Sebenarnya, para pelaku & pembawa kegaringan patut kita hargai usahanya untuk menghidupkan suasana. Namun sayang, tujuan mulia tersebut gagal dinikmati oleh lingkungan akibat perbedaan level sense of humor. Malah akhirnya terkadang situasi yg pada awalnya ceria, bisa berubah menjadi seperti mengheningkan cipta.

Yg paling parah adalah kegaringan yg agen pembawanya adalah org yg patut kita hormati. Misalnya atasan kita, Pak RT, mertua, ustadz dll. Rasanya jiwa humor kita tercabik-cabik. Rasanya kita ingin hari cepat-cepat berganti malam agar kita cepat tertidur & terlepas dari belenggu kegaringan itu.

Mudah-mudahan kita selalu terhindar dari kegaringan-kegaringan dunia. Mari kita berusaha untuk meningkatkan level humor, mengasah bakat lucu & gemar menonton lawakan yg berkualitas di atas kegaringan rata-rata.
Akhir kata, saya tidak yakin anda membaca kajian tentang kegaringan (yg sangat garing ini) hingga sampai pada kalimat berikutnya. Terimakasih telah iseng membaca tulisan garing ini.


ADG
Blog:
http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, November 8, 2010

Ulang Tahun; Muhasabah

Ok, 32, memasuki 33. Now what?

  1. Dalam kalender Masehi, memang umur saya 32, tapi dalam kalender Hijriyah, sudah hampir 33 tahun. Ya, saya lahir pada tanggal 10 Dzulhijjah 1398 H, di sebuah rumah sakit milik Pertamina, di Sungai Gerong. Sungai Gerong waktu itu masih masuk dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, walaupun sekarang sudah dimasukkan ke dalam wilayah Kota Palembang. Konon kata orang tua saya, saya lahir tepat pada saat adzan subuh berkumandang, pada hari Raya Idul Adha di tahun itu.
  2. Orang tua saya pada mulanya hanya akan memberi nama saya dengan nama: Adrian. Ya, singkat sekali. Tetapi kemudian ditambah dengan "Agung" atas permintaan kakek saya almarhum. Beliau bilang, karena saya lahir di Hari Raya yang besar, maka sebaiknya diberi nama "Agung" untuk mengingatkan sejarah ini. :)
  3. Saya ingat, masa kecil saya dihabiskan di suatu daerah pinggiran Kota Palembang, dengan sungai-sungai kecil dan rawa-rawa, serta kebun dan hutan di sekelilingnya. Tentu sekarang wilayah ini sudah banyak berubah. Masa kecil saya penuh dengan permainan kampung, memancing, memanjat pohon dll. Khusus memancing, sampai sekarang saya masih lebih suka memancing di rawa-rawa dibanding memancing di laut atau sungai. Ikannya lebih friendly dan lebih enak dimakan. ^_^
  4. Hmm, ini muhasabah kan? Hehehe.... Ok. Sepertinya lebih baik tidak memakai numbering... :-)

32 tahun. Presiden Soeharto menjabat selama kurun waktu tersebut. Beliau sudah membuat sejarah yg sangat panjang, dengan akhir yang tidak menyenangkan. Mudah-mudahan ini merupakan awal yang baik untuk saya, dan tidak berakhir seperti kekuasaan sang mantan Presiden.

32 tahun. Sehari setelah ulang tahun saya, Presiden Obama menyempatkan berkunjung ke Indonesia, walaupun tidak sampai 24 jam. Sepertinya Obama bermain monopoli: "hanya lewat". Mudah-mudahan bermanfaat, walaupun saya masih sepakat dengan kalimat: "Obama will not change a thing, America is America". Mudah-mudahan ini merupakan penanda dan motivasi bahwa dengan bersikap optimis, semua bisa dicapai. Obama bisa menjadi Presiden USA pertama dari kalangan Afro-Amerika.

32 tahun. Hampir dua minggu sebelum hari ulang tahun saya, terjadi gempa dan tsunami yang dahsyat yang mengakibatkan lebih dari 400 orang meninggal di Mentawai. Sebelumnya Wasior juga tersapu banjir bandang. Dan hampir berbarengan dengan Mentawai, Merapi memulai semburannya. Hingga saya menulis blog ini, situasi di sana masih tidak menentu. Mudah-mudahan ini merupakan peringatan agar saya jangan sampai lupa dengan Kuasa Allah, SWT.

Thursday, October 28, 2010

'Sumpah Pemuda' vs 'Sumpah Serapah Pemuda'

82 tahun yang lalu, berbagai wakil organisasi kepemudaan antara lain Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie melaksanakan Kongres Pemuda II.

Kongres Pemuda II ini menghasilkan satu catatan penting, yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda.
Isinya kurang lebih sebagai berikut:

PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Pada hari itu juga, diperdengarkan (konon untuk pertama kalinya di hadapan orang banyak) Lagu Indonesia Raya, yang kemudian menjadi Lagu Kebangsaan Indonesia.

Hingga kini, Output dari Kongres Pemuda II ini diperingati setiap 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda.

* * * * *

Di masa kini, apakah semangat persatuan dan kebanggaan berbangsa dan berbahasa Indonesia itu masih melekat pada diri kita, para pemuda?

Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

Adakah tumpah darah kita itu berarti kita memang harus menumpahkan darah kita di jalanan dengan tawuran?
Adakah tumpah darah yang satu itu berarti kita harus berdemo hingga babak belur, anarkis, membakar ban hingga ada martir di antara kita?
Adakah tumpah darah itu kita harus tunjukkan dengan menghadapai pemuda lain yang berseragam polisi atau satpol PP, yang notabene mungkin adalah sahabat kita, tetangga kita bahkan keluarga kita sendiri?

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita bisa mendapatkan arti dari 'tumpah darah' itu sebagai 'tempat (daerah) kelahiran'. Hmm, mestinya kita tahu dan mengerti itu. Tapi bagaimana kita menghayati substitusi kata 'tempat (daerah) kelahiran' itu dengan idiom 'tumpah darah' yang mestinya secara emosional lebih bermakna mendalam.
Seharusnya kita memahami dengan baik pentingnya kita memaknai tumpah darah itu dengan kecintaan terhadap tanah air, persaudaraan. Tanah air kita yang merupakan Negara Kesatuan, dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dengan total garis pantai terpanjang di dunia, yang membuat kita memiliki banyak saudara dengan kekayaan alam dan budaya yang disumbangkan oleh masing-masing wilayah kita.

Kita dulu pernah jaya dengan dua Kerajaan Maritim yang Besar: Sriwijaya dan Majapahit.

Wednesday, October 20, 2010

Lirik Lagu yang "Mengganjal"

Pernah mendengar lagu "Bintang 14 hari" yang dinyanyikan oleh Kangen Band? Apakah anda merasa bahwa itu liriknya normal?
Coba dengarkan lagi. Di awal lagu, liriknya kira-kira begini: "14 hari ku mencari dirimu untuk menanyakan dimanakah dirimu".
Masih merasa bahwa lirik itu biasa saja?

Menurut saya, lirik lagu itu terlalu penuh delusi, mengada-ada dan absurd. Apa gunanya mencari orang untuk bertanya di mana orang itu berada?

Ada lagi lirik lagu "Terkenang" dari kLA Project, yang potongan liriknya kurang lebih seperti ini: "Perasaan rindu membubung tinggi | Jatuh kepayang | Bertahun mencari tambatan diri | Ah …. , adakah engkau jawabnya".
Yang saya ingin kritisi di sini, apa artinya "Jatuh kepayang"? Apakah mereka mengira bahwa "kepayang" itu artinya cinta karena biasa ada idiom "mabuk kepayang"? Kita, harusnya berhati-hati dalam membuat lirik lagu. Jangan sampai asumsi kita tentang sesuatu menjadikan kita tidak berhati-hati.

Setahu saya, kepayang itu adalah sejenis buah yang memabukkan. Di hutan-hutan banyak terdapat pohon kepayang (atau kepahyang). Di daerah Sumatera, banyak desa atau kampung yang memakai nama Kepayang atau Kepahyang sebagai nama desa atau kampungnya.
Kalau kita lihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari kepayang adalah:

ke.pa.yang
[n] (1) pohon, bijinya memabukkan; Pangium edule; (2) biji kepayang

Dari definisi di atas, jelas, bahwa kepayang adalah sebuah pohon yang bijinya memabukkan. Di saat seseorang jatuh cinta, seseorang seolah-olah tidak sadar, seperti orang yang mabuk. Tidak bisa berpikir logis. Di saat itulah orang Melayu mengibaratkan seseorang yang sedang jatuh cinta itu sebagai orang yang mabuk kepayang.

Tuesday, October 12, 2010

Bagaimana kalau...? #random

Bagaimana kalau Foke terkena macet?

Bagaimana kalau PSSI direvolusi, dan Nurdin dilengserkan berserta kroni-kroninya?

Bagaimana kalau pengurus PSSI tetap seperti sekarang, tapi ternyata Timnas bisa Juara Asia?
*mimpi kali*

Bagaimana kalau banjir bandang Wasior terjadi pada saat Menhut bertandang ke sana?

Bagaimana kalau di tiap Kantor Pajak dibangun patung Gayus menangis?

Bagaimana kalau TVO*e terus menyiarkan persidangan Gayus?

Bagaimana kalau anggota DPR studi banding ke neraka? *biar tau hukuman kalo korupsi*

Bagaimana kalau penarikan Indomie di Taiwan dilakukan karena perang dagang? *mau bikin Taimie kali*

Bagaimana kalau tahun 2014 Jakarta benar-benar matot (macet total)?

Bagaimana kalau Foke kita suruh tinggal di rumah yang kebanjiran barang sehari saja?


Bagaimana kalau Anggodo jadi Ketua KPK saja?

Monday, October 4, 2010

Diskusi dan Komunikasi dengan Bahasa Hati

Hidup di Indonesia, rasanya kita hidup di antara kaidah-kaidah dan norma yang berlaku yang biasanya kita sebut dengan adat ke-timur-an. Bahasa dan kata yang disusun rapi (tidak frontal/straightforward), penolakan dengan halus, intonasi yang diatur sedemikian rupa, hingga pengucapan nama dan panggilan terhadap seseorang bahkan diri kita sendiri pun sangat memperhitungkan sisi kepantasan dan kepatutan. Hal-hal tersebut turut memperkaya karakter bangsa.

Memang, tidak semua suku di Indonesia memiliki kaidah-kaidah yang sangat halus tersebut. Di Sumatera dan Sulawesi misalnya, banyak suku yang kata-katanya lantang dan tidak suka menyimpan perasaan.

Saya kutip dari twit Bpk Komaruddin Hidayat (@komar_hidayat) yang mengutip juga dari pendapat budayawan Remy Silado, bahwa orang Indonesia sepertinya memang lebih mengedepankan masalah rasa (hati) ketimbang logika (rasio). Ada banyak contoh kata bahasa Inggris yang apabila di-Indonesia-kan terjemahannya dikaitkan dengan hati.
Beberapa contoh:
  • unwillingly = setengah hati
  • glad = besar hati
  • annoyed = sakit hati
  • haughty = tinggi hati
  • humble = rendah hati

Wednesday, September 29, 2010

Di hati Orang Malaysia tetap ada Indonesia

Malaysia. Itulah nama negara tetangga kita itu. Nama yang kalau kita dengar akhir-akhir ini sering membuat telinga kita gatal, bahkan hati kita panas. Nama yang tidak pernah bisa membuat kita tidak berkomentar. Negara ini juga yang menjadi tujuan distribusi dan penjualan musik-musik kita. Negara yang menjadi tempat mencari nafkah saudara-saudara kita. Negara yang menjadi tujuan sekolah mahasiswa-mahasiswa kita. Negara tujuan wisata sebagian rakyat kita. Negara tempat berobat beberapa pasien rumah sakit kita. Negara yang mengklaim budaya kita. Negara yang berusaha mencuri kekayaan alam kita.

Malaysia, dengan mayoritas penduduk berbahasa Melayu sebenarnya merasa sangat dekat dengan Indonesia. Konon, sebelum kemerdekaan, sebagian besar mereka menginginkan negara Nusantara, yang terdiri dari wilayah NKRI sekarang dan wilayah Malaysia saat ini. Mereka menginginkan untuk ikut bergabung dengan Indonesia. Namun, karena kolonisasi oleh dua negara berbeda, dan pada waktu Jepang menyerah kepada sekutu, sedangkan Jepang menjajah Indonesia, maka setelah penyerahan tanpa syarat Jepang terhadap sekutu, Indonesia telah terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan. Maka jadilah Indonesia yang sekarang ini (tentu saja pada waktu itu masih minus Timor Leste dan Papua Barat) dengan Malaysia masih di bawah koloni Inggris.

Paguyuban dan Partai-partai mereka pada tahun 1940an ternyata memakai bendera Merah Putih sebagai panji mereka, dan mereka mengakui warna itu sebagai peninggalan Majapahit. Artikel tentang Sejarah dan Bendera Malaysia ini dimuat dalam edisi elektronik dari harian New Strait Times tanggal 25 September 2010. http://www.nst.com.my/nst/articles/Heritage_Flagofanation__8217_sstory/Article/

Friday, September 24, 2010

Tertib dikit wooi..! Buat kita-kita juga..!

Pagi ini, seperti biasa, berangkat pagi dari rumah bareng istri, nganter ke kantornya trus langsung bablas ke airport Soekarno-Hatta. Seperti biasa, menuju field utk regular schedule. Seperti biasa, setiap 24 hari sekali ke lapangan. Yg membuat tidak biasa, ini adalah schedule pertama setelah Lebaran tahun ini. Yg membuat tak biasa, kemarin di rumah lbh dr 2 minggu krn cuti dilanjut off. Nah, di jalan hingga sampe di Bandara SMB II Palembang, ketemu hal-hal yg biasa yg sebenarnya tidak perlu dibiasakan. Hal-hal ironis. Again, ini tentang moral & kebiasaan kampungan manusia-manusia yg harus disadarkan.
Keluar kompleks, masih Cibubur, macet, biasaa.... Bertemu mobil-mobil dengan pengemudi yg... hmmm... "sangat menghargai waktu". Dengan mencoba potong sana potong sini. Well, bukan hal yg unik. Msh bisa dihadapi krn ini kejadian sehari-hari. Tidak perlu dibahas.

Masuk tol, biasa, tidak ada yg unik. Eh, begitu lewat satu spot yg ternyata jembatan, lewat dr pintu tol taman mini, terlihat tumpukan sampah yg stuck di jembatan itu, karena tertahan. Arus yg mengalir ke arah seberangnya mengakibatkan sampah yg terapung di kali itu menumpuk & bisa membuat kali buntu. Kemudian saya berpikir, org Jakarta ini sudah berpuluh-puluh kali terkena wabah banjir karena aliran kali & gorong-gorong mampet, tp msh juga buang sampah sembarangan. Bingung. Rasanya, hewan saja kalo sudah tahu letak lubang di jalan, pd waktu lain melalui jalan itu dia akan menghindarinya. Kok manusia yg begini gak sadar-sadar ya..?

Tiba di bandara, biasa. Kali ini pintu masuk tertib. Setelah check in & bayar airport tax, menuju ruang tunggu keberangkatan.

Thursday, September 23, 2010

Smart user vs Smartphone

Kemarin baru terima broadcast dari beberapa teman, yg isinya cuma deretan angka. Pertama saya kira itu hanya salah kirim nomor kontak, eh.. ternyata ada lg. Setelah itu jd penasaran, ternyata beberapa teman jg mengeluhkan hal yg sama. Intinya, risih dengan kiriman yg gak jelas seperti itu.

Setelah diselidiki (hehehe, "diselidiki"), ternyata konon katanya deretan angka tersebut kalo di-broadcast ke minimal 10 kontak di BBM, akan membuat BB kita tambah kuencenggg...

Hmmm, capede... Tololologi apalagi nih? Tahayul teknolologi? Kok org bisa percaya yg gituan ya? Padahal secara logis gak masuk akal. Sama juga dengan berita yg bilang kalo broadcast some certain message ini ke semua kontak BBM bisa terhindar dari bahaya laten hang-nya BB, hilangnya kontak BBM dll dll. Come on guys, be smart. You own a smartphone (ups, maybe not only one, you own smartphones), so I suppose that you're smart enough to take in that hoax.

Percayalah, ada banyak sekali hoax di luar sana yg bisa membuat kita menjadi tampak tolol kalo percaya. Kita mestinya menambahkan doa setelah shalat kita dengan: "Aku berlindung dari hoax-hoax yg bisa membuatku tampak bodoh, yg bisa menurunkan image, yg bisa mengubah jalan pikiran. Lindungilah kami dari fitnah-fitnah yg absurd & iseng yg membuat teman-teman kami mempercayainya".

Sekali lagi, mungkin saya sarankan utk banyak-banyak minum tolak angin, supaya pintar & usahakan jangan langsung broadcast berita-berita & sesuatu yg agak asing & lucu, kecuali itu sudah merupakan pilihan akhir.

ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®