82 tahun yang lalu, berbagai wakil organisasi kepemudaan antara lain Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie melaksanakan Kongres Pemuda II.
Kongres Pemuda II ini menghasilkan satu catatan penting, yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda.
Isinya kurang lebih sebagai berikut:
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Pada hari itu juga, diperdengarkan (konon untuk pertama kalinya di hadapan orang banyak) Lagu Indonesia Raya, yang kemudian menjadi Lagu Kebangsaan Indonesia.
Hingga kini, Output dari Kongres Pemuda II ini diperingati setiap 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda.
* * * * *
Di masa kini, apakah semangat persatuan dan kebanggaan berbangsa dan berbahasa Indonesia itu masih melekat pada diri kita, para pemuda?
Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
Adakah tumpah darah kita itu berarti kita memang harus menumpahkan darah kita di jalanan dengan tawuran?
Adakah tumpah darah yang satu itu berarti kita harus berdemo hingga babak belur, anarkis, membakar ban hingga ada martir di antara kita?
Adakah tumpah darah itu kita harus tunjukkan dengan menghadapai pemuda lain yang berseragam polisi atau satpol PP, yang notabene mungkin adalah sahabat kita, tetangga kita bahkan keluarga kita sendiri?
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita bisa mendapatkan arti dari 'tumpah darah' itu sebagai 'tempat (daerah) kelahiran'. Hmm, mestinya kita tahu dan mengerti itu. Tapi bagaimana kita menghayati substitusi kata 'tempat (daerah) kelahiran' itu dengan idiom 'tumpah darah' yang mestinya secara emosional lebih bermakna mendalam.
Seharusnya kita memahami dengan baik pentingnya kita memaknai tumpah darah itu dengan kecintaan terhadap tanah air, persaudaraan. Tanah air kita yang merupakan Negara Kesatuan, dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dengan total garis pantai terpanjang di dunia, yang membuat kita memiliki banyak saudara dengan kekayaan alam dan budaya yang disumbangkan oleh masing-masing wilayah kita.
Kita dulu pernah jaya dengan dua Kerajaan Maritim yang Besar: Sriwijaya dan Majapahit.
Every eyes got their different impressions of the color blue. Different means, different senses. We're human, we think more, we value things, that's why we're different. --- "Then which favors of God will you deny?"
BlogTag
Verba volant, scripta manent - Words fly, written stays
Thursday, October 28, 2010
Tuesday, October 26, 2010
Meilia
Kita serupa kau, aku & bunga-bunga. Puisi cinta yg mengembun di antara tangis, tawa & wangi di antaranya
Tak mesti selalu tangguh, hanya bila terdampar peluh & keluh, aku kan hadir tuk mengusung sembuh, memberi teduh
Tak mesti selalu tegar, sebab saat kau gemetar, ku kan tersadar membentang bahu tuk bersandar
Tak mesti selalu berani, karena jika kau sendiri, ku kan beringsut bahkan berlari, tuk temani di setiap malam & pagi
Tak mesti selalu tertawa, karena hidup penuh nada. Kita kan tertawa pd saatnya, menangis pd waktunya. Aku, kamu didekap bahagia
Kita serupa kau, aku & bunga-bunga. Puisi cinta yg berwarna. Menuai mimpi mengukir hati. Di sini, cintaku makin terpatri
Tak mesti selalu tangguh, hanya bila terdampar peluh & keluh, aku kan hadir tuk mengusung sembuh, memberi teduh
Tak mesti selalu tegar, sebab saat kau gemetar, ku kan tersadar membentang bahu tuk bersandar
Tak mesti selalu berani, karena jika kau sendiri, ku kan beringsut bahkan berlari, tuk temani di setiap malam & pagi
Tak mesti selalu tertawa, karena hidup penuh nada. Kita kan tertawa pd saatnya, menangis pd waktunya. Aku, kamu didekap bahagia
Kita serupa kau, aku & bunga-bunga. Puisi cinta yg berwarna. Menuai mimpi mengukir hati. Di sini, cintaku makin terpatri
Thursday, October 21, 2010
Penasaran di Executive Lounge
Senin kemarin, berangkat lagi ke field, sempat mampir dulu di Executive lounge. Sendiri.
Sempat sarapan, trus senyum-senyum sendiri memperhatikan orang-orang di sekitar. Fenomena Executive Lounge di Bandara ini bagi saya menarik. Dan saya penasaran.
Saya berceloteh gak karuan di twitter pagi itu.
Sempat sarapan, trus senyum-senyum sendiri memperhatikan orang-orang di sekitar. Fenomena Executive Lounge di Bandara ini bagi saya menarik. Dan saya penasaran.
Saya berceloteh gak karuan di twitter pagi itu.
Sampe di situ saja. Terputus karena ketemu si Eko, anak Asset sebelah yang kayaknya setengah sotoy juga. Kemudian ngeributin masalah saham dan lain-lain yg akhirnya menurut saya membuang energi, karena yang diajak diskusi gak menguasai materi.
Tapi suatu saat, saya akan menguak misteri Executive Lounge yang bagi saya menarik itu. Hehehehe....
Subscribe to:
Posts (Atom)
