Nadia is an angel. She has beauty. She spreads the beauty. She makes you feel a beauty. She is the Beauty. Beauty....
I love watching my daughter play. It's her energy. It's her entushiasm. It's her beauty. It's her emotions. So adorable. Adorable....
Miss my daughter. Her smell, her smile, her style, her smooth skin. She's my energy. My source of energy. Energy....
My li'l angel is like a flower. Not a rose, she has no thorn. Not a jasmine, she's colorful. She's a fragrant one. She is a flower. Flower....
My God, she's a freedom. She runs freely, shouts freely. Sleeps freely, smiles freely. And I love her for free. For free....
A dream. She's a dream. Dream about how to love, how to care. Dream about how to cope, how to share. She's a dream. Our dream....
My daughter is an inspiration. Inspire me to smile, to live. To be humble, to give. To be healthy, and to be me. Inspirations....
ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Every eyes got their different impressions of the color blue. Different means, different senses. We're human, we think more, we value things, that's why we're different. --- "Then which favors of God will you deny?"
BlogTag
Verba volant, scripta manent - Words fly, written stays
Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts
Monday, November 22, 2010
Saturday, November 6, 2010
Opposite
Apa kau tau saatnya aku menabuh rindu?
Gemuruh itu adalah deras alir emosi yg tiba-tiba meluruh di hati
Berpendar dalam tangan yg membelai & menggapai
Aku selaraskan dengan frekuensimu, yg tak aku tau, selalu
Apa kau rasa ketika cinta itu ada?
Rona merah itu adalah dendam yg terpendam dalam
Dendam yg tersapu waktu, mengalah pada kondisi, terpaku
Terseret sepi, terasing walau tak sendiri, kering
Apakah aku & kamu bukan dalam satu masa?
Hingga di saat kau tersenyum, aku merenung
Hingga di saat ku terluka, kau tertawa
Hingga di saat kau berlari, ku hanya berdiri
Hingga di saat ku marah, kau tak gundah
Semacam sepoi di antara panas & hujan, kita mestinya menyejukkan
Semacam air di antara kemarau kering, kita mestinya menyegarkan
Semacam tawa di antara sedih & duka, kita mestinya gembira
Dan kini hanyalah sepi mengukir waktu, di antara datang dan berlalu
Hingga ketika tiba di hatimu, ku kan tuangkan cinta itu
ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Gemuruh itu adalah deras alir emosi yg tiba-tiba meluruh di hati
Berpendar dalam tangan yg membelai & menggapai
Aku selaraskan dengan frekuensimu, yg tak aku tau, selalu
Apa kau rasa ketika cinta itu ada?
Rona merah itu adalah dendam yg terpendam dalam
Dendam yg tersapu waktu, mengalah pada kondisi, terpaku
Terseret sepi, terasing walau tak sendiri, kering
Apakah aku & kamu bukan dalam satu masa?
Hingga di saat kau tersenyum, aku merenung
Hingga di saat ku terluka, kau tertawa
Hingga di saat kau berlari, ku hanya berdiri
Hingga di saat ku marah, kau tak gundah
Semacam sepoi di antara panas & hujan, kita mestinya menyejukkan
Semacam air di antara kemarau kering, kita mestinya menyegarkan
Semacam tawa di antara sedih & duka, kita mestinya gembira
Dan kini hanyalah sepi mengukir waktu, di antara datang dan berlalu
Hingga ketika tiba di hatimu, ku kan tuangkan cinta itu
ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tuesday, October 26, 2010
Meilia
Kita serupa kau, aku & bunga-bunga. Puisi cinta yg mengembun di antara tangis, tawa & wangi di antaranya
Tak mesti selalu tangguh, hanya bila terdampar peluh & keluh, aku kan hadir tuk mengusung sembuh, memberi teduh
Tak mesti selalu tegar, sebab saat kau gemetar, ku kan tersadar membentang bahu tuk bersandar
Tak mesti selalu berani, karena jika kau sendiri, ku kan beringsut bahkan berlari, tuk temani di setiap malam & pagi
Tak mesti selalu tertawa, karena hidup penuh nada. Kita kan tertawa pd saatnya, menangis pd waktunya. Aku, kamu didekap bahagia
Kita serupa kau, aku & bunga-bunga. Puisi cinta yg berwarna. Menuai mimpi mengukir hati. Di sini, cintaku makin terpatri
Tak mesti selalu tangguh, hanya bila terdampar peluh & keluh, aku kan hadir tuk mengusung sembuh, memberi teduh
Tak mesti selalu tegar, sebab saat kau gemetar, ku kan tersadar membentang bahu tuk bersandar
Tak mesti selalu berani, karena jika kau sendiri, ku kan beringsut bahkan berlari, tuk temani di setiap malam & pagi
Tak mesti selalu tertawa, karena hidup penuh nada. Kita kan tertawa pd saatnya, menangis pd waktunya. Aku, kamu didekap bahagia
Kita serupa kau, aku & bunga-bunga. Puisi cinta yg berwarna. Menuai mimpi mengukir hati. Di sini, cintaku makin terpatri
Tuesday, October 12, 2010
Waktu
Tak terarah
Ketika kulabuh mimpiku di tepi danau keruh
dan daun-daun jatuh
Imaji
Ketika kunampak mimpi-mimpi itu lagi
dan aku berlari
Tersungkur
dan kulepas anak panahku melesat
dan cita-cita pun hampir tersesat
Bangkit
dan mimpi itu terus melejit
tetap berlari walau kaki sakit
Senyum
Bunga-bunga bermekaran harum
Kupetik sekuntum
Tak terasa dulu, kini, nanti
Kita bermimpi, mencoba, tersungkur, bangkit, senyum, sepi
Semua bukan imaji, semua tidak semu, pasti
Torehkan sejarah hidup dengan hati
Mencoba, masa depan dan perhatian
Kesempatan dan penantian
Telah digariskan, TUHAN
Ketika kulabuh mimpiku di tepi danau keruh
dan daun-daun jatuh
Imaji
Ketika kunampak mimpi-mimpi itu lagi
dan aku berlari
Tersungkur
dan kulepas anak panahku melesat
dan cita-cita pun hampir tersesat
Bangkit
dan mimpi itu terus melejit
tetap berlari walau kaki sakit
Senyum
Bunga-bunga bermekaran harum
Kupetik sekuntum
Tak terasa dulu, kini, nanti
Kita bermimpi, mencoba, tersungkur, bangkit, senyum, sepi
Semua bukan imaji, semua tidak semu, pasti
Torehkan sejarah hidup dengan hati
Mencoba, masa depan dan perhatian
Kesempatan dan penantian
Telah digariskan, TUHAN
Wednesday, October 6, 2010
Ketika Hujan
Hujan ini bukan mata air langit. Hujan ini aliran emosi malam. Meluruh, menghias Kelam. Aku terdiam diantara sinar dan bayang.
Hujan ini bukan airmata dewa. Hujan ini kumpulan senandung burung. Terhimpun, turun mengalun. Aku tertegun di antara awan dan gunung.
Hujan ini bukan jelaga neraka. Hujan ini getah tumbuhan surga. Tercurah, tanah membasah. Aku terperangah, terengah-engah.
Hujan ini bukan untukmu, bukan untukku. Hujan ini karenamu, karenaku. Hujan ini untuk kau tahu. Lagu yg tak selalu merdu.
Dan ketika guntur menyambar-nyambar, utk kau sadar. Bahwa kita terlahir suka, bukan duka. Duka hanya mendung yg tak jadi hujan.
Dan ketika hujan mereda, untuk kau rasa. Bahwa angin menyapu hujan, menyapa alam. Alam adalah kita bersandiwara.
Lalu hujan itu, aku & kamu, mendung & alam. Setidaknya kita tahu. Hujan tak untuk ditafsir duka. Hujan utk menari di bawahnya. Cinta.
ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Hujan ini bukan airmata dewa. Hujan ini kumpulan senandung burung. Terhimpun, turun mengalun. Aku tertegun di antara awan dan gunung.
Hujan ini bukan jelaga neraka. Hujan ini getah tumbuhan surga. Tercurah, tanah membasah. Aku terperangah, terengah-engah.
Hujan ini bukan untukmu, bukan untukku. Hujan ini karenamu, karenaku. Hujan ini untuk kau tahu. Lagu yg tak selalu merdu.
Dan ketika guntur menyambar-nyambar, utk kau sadar. Bahwa kita terlahir suka, bukan duka. Duka hanya mendung yg tak jadi hujan.
Dan ketika hujan mereda, untuk kau rasa. Bahwa angin menyapu hujan, menyapa alam. Alam adalah kita bersandiwara.
Lalu hujan itu, aku & kamu, mendung & alam. Setidaknya kita tahu. Hujan tak untuk ditafsir duka. Hujan utk menari di bawahnya. Cinta.
ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saturday, October 2, 2010
Akhir September, Awal Oktober
Pagi ini, sejak semalam
berita getir
Mengunyah malam dengan amarah, lalu berdarah
menusuk manusia dengan tajam congkaknya, terbalas hangus sujudnya
Sementara negara masih ternganga
sejak hari ini dan seminggu berlalu
laskar liar beraksi di utara negeri, hingga evakuasi
Merampas uang menebar ketakutan
lalu mengucap nama Tuhan
Lalu berperang untuk keadilan jalanan
hingga darah menumpah
di kamar keadilan, dan halamannya
Ular besi berkhianat pada tuannya
manusia terkapar karenanya
Indonesia, hari ini tak kupakai batikmu
aku malu, maafkan aku
berita getir
Mengunyah malam dengan amarah, lalu berdarah
menusuk manusia dengan tajam congkaknya, terbalas hangus sujudnya
Sementara negara masih ternganga
sejak hari ini dan seminggu berlalu
laskar liar beraksi di utara negeri, hingga evakuasi
Merampas uang menebar ketakutan
lalu mengucap nama Tuhan
Lalu berperang untuk keadilan jalanan
hingga darah menumpah
di kamar keadilan, dan halamannya
Ular besi berkhianat pada tuannya
manusia terkapar karenanya
Indonesia, hari ini tak kupakai batikmu
aku malu, maafkan aku
Subscribe to:
Posts (Atom)