#IndonesiaTanpaJIL

BlogTag

BlogTag
Verba volant, scripta manent - Words fly, written stays

Wednesday, December 15, 2010

Garuda di Dadaku

Seiring dengan baiknya penampilan Timnas Sepakbola Indonesia di Piala AFF 2010, maka banyak sekali pendapat yang mengalir deras yang ditujukan kepada Tim ini. Bukan saja pendapat yang teknis, tapi juga non teknis, hingga seragam timnas pun digugat. Digugat? Ya, digugat oleh seseorang yang bernama David Tobing.

Tidak jelas apa tujuan akhir dari gugatan David Tobing ini, inilah kutipan dari pendapat beliau: "Ada fakta penggunaan Lambang Negara tersebut tidak berdasar dan melanggar Undang-Undang tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan". Lalu beliau pun menggugat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mendiknas, Menpora, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan PT Nike Indonesia, terkait penggunaan lambang negara Garuda dalam kostum tim sepak bola nasional (http://www.antaranews.com/berita/1292329080/david-tobing-gugat-kostum-timnas-indonesia).

***
Menurut saya, gugatan itu adalah gugatan yang tidak perlu, terlalu berlebihan dan terkesan (maaf) mencari popularitas.
Sejak tahun 1956 di Olimpiade Melbourne, Lambang Garuda itu selalu melekat di dada para pemain Timnas, bahkan pernah berukuran besar dan terletak di bagian tengah bagian depan seragam merah Timnas Indonesia. Sampai beberapa hari yang lalu, tidak seorang pun mempermasalahkan hal tersebut, bahkan kelompok-kelompok supporter membuat yel-yel penyemangat Tim Nasional pada saat bertanding di stadion dengan Nyanyian: "Garuda di dadaku"


Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu, tunjukkan sportifitasmu
Ku yakin hari ini pasti menang.

Menyanyikan yel di atas di dalam Stadion bersama-sama puluhan ribu pendukung Timnas merupakan satu hal yang bisa menambah kecintaan kita terhadap Bangsa dan Negara. Dan hal ini membuat saya berpikir, bahwa David Tobing ini mungkin tidak pernah merasakan atmosfer itu.

Monday, November 22, 2010

Nadia

Nadia is an angel. She has beauty. She spreads the beauty. She makes you feel a beauty. She is the Beauty. Beauty....

I love watching my daughter play. It's her energy. It's her entushiasm. It's her beauty. It's her emotions. So adorable. Adorable....

Miss my daughter. Her smell, her smile, her style, her smooth skin. She's my energy. My source of energy. Energy....

My li'l angel is like a flower. Not a rose, she has no thorn. Not a jasmine, she's colorful. She's a fragrant one. She is a flower. Flower....

My God, she's a freedom. She runs freely, shouts freely. Sleeps freely, smiles freely. And I love her for free. For free....

A dream. She's a dream. Dream about how to love, how to care. Dream about how to cope, how to share. She's a dream. Our dream....

My daughter is an inspiration. Inspire me to smile, to live. To be humble, to give. To be healthy, and to be me. Inspirations....



ADG
Blog: http://8200psig.blogspot.com/
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, November 19, 2010

Pembelaan

Menyelami perasaan seseorang memang tidak mudah, dan kadang memang tidak ada gunanya. Tapi terkadang juga kita penasaran dengan apa yang menjadi isi kepala seseorang. Membuat kita menerka-nerka, apa yang diinginkan dari orang tersebut, apa tujuannya, apa yang melatarbelakangi dia melakukan sesuatu, melatarbelakangi dia mengatakan sesuatu, melakukan pembelaan terhadap sesuatu yang sudah jelas tidak perlu diterangkan dan dibela serta hal-hal lain yang membuat rasa keingintahuan kita tinggi.

Khusus mengenai pembelaan, saya memiliki pengalaman yang unik, yang mungkin tidak perlu diterangkan di sini. Tapi hal ini membuat saya berteori, dan muncullah hipotesis saya tentang pembelaan.

Sebelum membaca tulisan ini saya perlu mengingatkan bahwa apa yang saya tulis ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan salah satu atau beberapa profesi tertentu. Ini hanyalah tulisan berdasarkan pendapat saya yang saya anggap logis.

Seseorang yang membela sesuatu atau seseorang, dapat dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang logis, di antaranya adalah:
  1. Dibayar. Hal ini sangat logis dan pasti banyak terjadi. Bisa menjadi profesi, bisa juga amatiran. Atau malah tidak sengaja dan diperalat. Tidak perlu dibahas, semua juga sudah mengerti.
  2. Simpati. Atau mungkin juga bisa dibilang kasihan. Seseorang yang bersimpati dengan orang lain, cenderung akan melakukan pembelaan terhadap orang lain yang menurutnya pantas untuk dibela, atau dikasihani. Pembelaan bisa dilakuakan terhadap penindasan, pelecehan, penganiayaan dan juga ejekan. Hal ini bisa juga dilatarbelakangi oleh lemahnya mental orang yang menjadi objek, ketidaktegasan, ataupun ketidakberdayaan. Orang yang easygoing tidak termasuk dalam orang yang pantas dibela, kecuali istilah easygoing itu salah alamat, atau salah diinterpretasikan. Sebenarnya objek tersebut tidak easygoing, tetapi lemah secara posisi, dan tidak tegas dalam bertindak.
  3. Status. Karena status, biasanya orang berusaha untuk melindungi objek untuk dibela. Biasanya status ini karena pernikahan atau memang hubungan darah. Bisa juga antara atasan-bawahan. Pembelaan seperti ini biasanya tulus, namun tidak jarang juga timbul karena terpaksa. Bisa juga dilakukan untuk menjaga image, menjaga rahasia pribadi, keluarga, perusahaan dll, bahkan untuk menutupi borok atau aib dalam suatu institusi.
  4. Satire/sinisme. Pembelaan seperti ini tujuan sampingnya adalah menyindir objek yang dibela. Secara sadar atau tidak sadar, objek yang dibela akan merasa tersindir dan lama kelamaan menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang membelanya ini adalah berlawanan dengan tujuannya. Biasanya pembelaan seperti ini akan berakhir dengan kesadaran dari objek yang dibela atas kekeliruannya.